Mengapa jendela? Seberapa penting
jendela itu? Sebegitu pentingkah sampai harus “membawahi” kata-kata lainnya?
Memang ada berbagai pendapat yang menganggap jendela itu tidak penting, atau
cukup penting, penting, bahkan sangat penting. Tapi tujuan tulisan ini bukan
untuk menghakimi pendapat-pendapat orang tentang jendela. Toh kita juga tahu
bahwa pendapat kita belum tentu benar. Lalu bagaimana dengan hakim? Sama dengan
kita. Hakim pun hanya memutuskan perkara berdasarkan bukti-bukti yang diberikan
kepadanya. Apakah bukti-bukti itu sudah pasti benar? Tentu belum. Segala
sesuatu yang berhubungan dengan manusia adalah serba tidak pasti. Jadi, jika
ada yang menganggap dirinya selalu benar, maka dia bukan manusia.
![]() |
| http://g01.a.alicdn.com/kf/HTB1nXLiNpXXXXXXXpXXq6xXFXXXv/3D-Indah-Taman-Pemandangan-Wall-Sticker-Kartun-Luar-Jendela-Decal-Vinyl-Art-Home-Decor.jpg |
Baik. Kita kembali pada topik
kita. Jendela. Ada berbagai definisi jendela, baik yang bersifat material,
fungsional, ataupun yang lain. Terlepas dari berbagai bingkai pendefinisian
itu, jendela hanyalah sarana untuk melihat “alam lain”. Apakah berarti kita
harus melangkahi jendela untuk pergi ke “alam lain” itu? Tidak tentu saja.
Keluar lewat jendela adalah tidak baik, tidak sesuai dengan tata nilai kita
sebagai manusia, kecuali dalam keadaan terjepit. Selain itu, manusia normal
tentu tidak akan keluar dari rumahnya melalui jendela. Lalu maling? Itu berarti
mereka manusia yang “sedang tidak normal”. Maling bukanlah suatu status yang
padat. Artinya, status itu masih bisa berubah jika pelakunya mengakui
kekeliruan tindakannya dan bersedia memperbaiki diri.
Kembali pada topik. Rumah yang
baik adalah yang memiliki cukup jendela. Rumah yang baik adalah yang membuka jendela-jendelanya
pada saat-saat yang tepat. Bisa dibayangkan seperti apa kondisi rumah yang
tidak memiliki jendela. Atau, jika memiliki jendela, penghuninya “malas”
membuka jendela-jendela rumahnya. Gelap. Pengap. Tidak tahu betapa indah
halaman rumahnya. Tidak tahu betapa luas dunia di luar rumahnya. Tidak tahu
betapa banyak orang-orang hebat di sekitarnya.
Pemaparan tentang jendela di atas
hanyalah sebuah metafora. Apa yang dimetaforakan? Rumah, penghuni rumah, dan
jendela. Penghuni rumah itu adalah “kita”. Rumah adalah tempat di mana kita
hidup sekarang. Jendela? Jendela adalah lubang yang menjadikan penghuninya
mampu melihat dunia luar, melihat indahnya pepohonan, melihat orang-orang yang
berlalu lalang, melihat langit yang luas, melihat alam yang luar biasa, dan
muaranya adalah kita mengetahui siapa yang berada dibalik itu semua. Lalu apa
hubungannya dengan blog ini? Sederhana saja, blog ini adalah sebuah “jendela”.
