Rabu, 26 April 2017

Jendela

   Mengapa jendela? Seberapa penting jendela itu? Sebegitu pentingkah sampai harus “membawahi” kata-kata lainnya? Memang ada berbagai pendapat yang menganggap jendela itu tidak penting, atau cukup penting, penting, bahkan sangat penting. Tapi tujuan tulisan ini bukan untuk menghakimi pendapat-pendapat orang tentang jendela. Toh kita juga tahu bahwa pendapat kita belum tentu benar. Lalu bagaimana dengan hakim? Sama dengan kita. Hakim pun hanya memutuskan perkara berdasarkan bukti-bukti yang diberikan kepadanya. Apakah bukti-bukti itu sudah pasti benar? Tentu belum. Segala sesuatu yang berhubungan dengan manusia adalah serba tidak pasti. Jadi, jika ada yang menganggap dirinya selalu benar, maka dia bukan manusia.
http://g01.a.alicdn.com/kf/HTB1nXLiNpXXXXXXXpXXq6xXFXXXv/3D-Indah-Taman-Pemandangan-Wall-Sticker-Kartun-Luar-Jendela-Decal-Vinyl-Art-Home-Decor.jpg

    Baik. Kita kembali pada topik kita. Jendela. Ada berbagai definisi jendela, baik yang bersifat material, fungsional, ataupun yang lain. Terlepas dari berbagai bingkai pendefinisian itu, jendela hanyalah sarana untuk melihat “alam lain”. Apakah berarti kita harus melangkahi jendela untuk pergi ke “alam lain” itu? Tidak tentu saja. Keluar lewat jendela adalah tidak baik, tidak sesuai dengan tata nilai kita sebagai manusia, kecuali dalam keadaan terjepit. Selain itu, manusia normal tentu tidak akan keluar dari rumahnya melalui jendela. Lalu maling? Itu berarti mereka manusia yang “sedang tidak normal”. Maling bukanlah suatu status yang padat. Artinya, status itu masih bisa berubah jika pelakunya mengakui kekeliruan tindakannya dan bersedia memperbaiki diri. 
      Kembali pada topik. Rumah yang baik adalah yang memiliki cukup jendela. Rumah yang baik adalah yang membuka jendela-jendelanya pada saat-saat yang tepat. Bisa dibayangkan seperti apa kondisi rumah yang tidak memiliki jendela. Atau, jika memiliki jendela, penghuninya “malas” membuka jendela-jendela rumahnya. Gelap. Pengap. Tidak tahu betapa indah halaman rumahnya. Tidak tahu betapa luas dunia di luar rumahnya. Tidak tahu betapa banyak orang-orang hebat di sekitarnya.

     Pemaparan tentang jendela di atas hanyalah sebuah metafora. Apa yang dimetaforakan? Rumah, penghuni rumah, dan jendela. Penghuni rumah itu adalah “kita”. Rumah adalah tempat di mana kita hidup sekarang. Jendela? Jendela adalah lubang yang menjadikan penghuninya mampu melihat dunia luar, melihat indahnya pepohonan, melihat orang-orang yang berlalu lalang, melihat langit yang luas, melihat alam yang luar biasa, dan muaranya adalah kita mengetahui siapa yang berada dibalik itu semua. Lalu apa hubungannya dengan blog ini? Sederhana saja, blog ini adalah sebuah “jendela”.